RILISJATENG.COM– Kampung Batik Laweyan tidak hanya menyimpan kisah kejayaan industri batik yang sangat terkenal di nusantara, namun Laweyan juga menyimpan kisah tentang perjuangan hebat perempuan-perempuan Laweyan yang menjadi juragan atau pemilik usaha batik, yang disebut Mbok Mase.
Peran perempuan di kampung Laweyan memang sudah dikenal sangat ulet dan bertanggung jawab. Perajin batik tulis yang menggunakan canting dan memberikan motif pada kain mori putih, merupakan aktivitas yang banyak dilakukan oleh perempuan.
Guratan sketsa hingga tetesan dan goresan garis serta lengkung yang keluar dari ujung canting, membutuhkan kelenturan, kesabaran dan olah rasa. Perempuan menjadi figur yang bisa mendapatkan semua nilai yang dibutuhkan pada proses membatik tersebut.
Sehingga batik tidak sekedar indahnya beragam motif yang tertempel pada kain, namun lebih pada proses membatik yang dilatarbelakangi dengan sebuah tekad, keikhlasan dan kerja keras para perajinnya atau pembatiknya. Terkadang, motifnya ada yang cukup rumit dan harus memperhatikan pakem-pakem khusus yang tidak boleh dilanggar. Maka hasil dari batik (khususnya batik tulis) bisa sangat dirasakan dan dilihat keindahannya sedemikian rupa, lantaran prosesnya melalui ketenangan batin.
Mengelola atau memanajemen industri batik di kala itu, juga banyak dilakukan oleh para perempuan. Konsep pengelolaan kerajinan batik dikerjakan oleh para isteri yang dalam konsep kekinian disebut entrepreneur perempuan.
Maka sebutan Mbok Mase, sering disematkan oleh warga yang ditujukan ke para entrepreneur perempuan di zaman kejayaan Kampung Laweyan zaman dulu. Sebutan Mbok Mase, ingin menggambarkan perempuan atau isteri yang tangguh. Mengapa disebut tangguh, perempuan yang menjadi juragan batik, tidak hanya bekerja untuk mengembangkan kerajinan atau industri batik miliknya, namun mereka juga menjadi seorang perempuan yang tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai istri atau ibu rumah tangga.
Mereka bekerja, mengurusi secara detail bisnis batik yang dikelolanya, namun pada saat-saat tertentu, mereka juga wajib memasak atau menemani makan suami dan anak-anaknya. Mbok Mase juga terlihat mengurus pendidikan anak-anaknya. Setelah mendampingi atau mengurus suami dan keluarga selesai dikerjakan, mereka kembali ke dunia pekerjaannya, berbaur dengan para perajin batik hingga mengurus bisnis batiknya, termasuk keuangan dari hasil transaksi batik dengan saudagar-saudagar kaya. Posisi tawar bisnisnya sangat baik dan terbukti usaha mereka berjalan semakin besar di bidang batik.
Atas peran Mbok Mase, industri batik di Laweyan menjadi besar dan bertahan sangat lama. Jasa atau perannya yang menjadi poros penting sebagai penggerak ekonomi di Laweyan. Sumber daya manusia yang bekerja sebagai perajin batik banyak direkrut dari warga sekitar Kampung Laweyan. Perekrutan tenaga tersebut juga menjadi urusan Mbok Mase.
Meski sangat dinamis dan banyaknya urusan yang harus dikerjakan dalam usaha batik, Mbok Mase tetap hormat dan patuh terhadap suaminya, yang biasa disebut Mas Nganten.
Bila memiliki anak perempuan, Mbok Mase juga mulai mengajarkan atau mendidik anak perempuannya untuk bisa setangguh ibunya. Tata karma, sopan santun, dan hormat kepada suami diteladankan sang Mbok Mase ke anak-anak perempuannya. Anak perempuan ini disebut Mas Rara. Mereka akan dipersiapkan untuk meneruskan usaha industri batik di kemudian hari bila waktunya sudah siap. Proses alih generasi ini berlangsung beberapa generasi. Namun saat ini, tampaknya sudah mulai luntur dan tak ada lagi sebutan Mas Rara pada zaman ini.
Kejayaan juragan batik yang dikelola para isteri tangguh atau Mbok mase, hingga kini masih bisa dilihat. Rumah-rumah kuno besar berarsitektur indah dengan kualitas bangunan yang bagus, dulu selain digunakan industri batik, juga bekas tempat tinggal juragan-juragan kaya.
Nah, kalau kalian ke Solo, jangan lupa mampir ke Kampung Batik Laweyan. Belanja batik dan jalan-jalan menyusuri gang-gang kecil di Kampung Laweyan memang sangat mengasyikkan. Kalian tidak hanya bisa berswafoto dengan latar belakang rumah-rumah kuno nan cantic, namun juga bisa juga kalian menjadikan kisah-kisah Mbok Mase menjadi materi konten kreatifmu di sosial media.(RLS)







