RILISJATENG.COM- Akulturasi budaya di Solo memang sudah lama dikenal sejak perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta. Banyaknya bandar atau dermaga yang dibangun di jalur transportasi sungai, menandakan begitu banyaknya pengaruh budaya di luar Jawa yang masuk ke Solo.
Misalnya, kawasan Kampung Laweyan, yang sudah sejak dulu berkembang sebagai perdagangan kain dan kerajinan batik, bahan-bahan kain banyak yang didatangkan dari berbagai daerah yang dibawa oleh perahu-perahu yang melintas di Sungai Jenes atau Sungai Bandaran. Di tempat itu pun pernah dibangun Bandar Kabanaran yang menjadi tempat berlabuhnya kapal atau perahu yang membawa berbagai komoditas.
Solo yang pada zaman dahulu juga dikenal sebagai kota perdagangan banyak didatangi berbagai etnis di nusantara. Maka tidak heran bila salah satu etnis di Kalimantan Selatan, yaitu etnis Banjar, banyak yang berdagang di Solo. Etnis Banjar banyak tinggal di Martapura, Kabupaten Banjar. Sebagian besar dari mereka adalah pedagang berlian, emas dan intan. Etnis Banjar yang ada di Solo banyak tinggal di kawasan Kampung Jayengan Kidul, Kecamatan Serengan.
Para perantau Banjar ini mulai datang ke Solo sekitar tahun 1907 sebagai saudagar dan perajin intan, permata serta batu mulia. Keahlian dalam bidang permata dan batu mulia yang mereka miliki bisa dimaklumi, sebab di kampung halamannya, Martapura, memang dikenal sebagai daerah penambang dan perajin permata dan batu mulia.
Masyarakat Banjar juga dikenal sebagai masyarakat religius sebagai penganut agama Islam. Karena ketaatan terhadap agama, saat merantau di Kampung Jayengan, mereka berinisiatif mendirikan langgar atau musala. Langgar tersebut semula dibangun hanya berdinding anyaman bambu pada 1910. Didirikannya masjid pada tahun 1910, sesuai dengan tulisan angka pada dinding depan Masjid Darussalam. Seiring dengan perkembangan waktu, di tahun 1930-an, mereka yang sebagian besar adalah saudagar berlian dan permata, menyisihkan rezekinya untuk mulai membangun masjid berdinding tembok.
Masjid yang dibangun itu adalah Masjid Darussalam yang berdiri hingga sekarang dan selalu dimanfaatkan untuk ibadah serta berbagai kegiatan keagamaan.
Para perantau warga Banjar ini juga kerap memanfaatkan masjid untuk tempat pertemuan sesama saudagar di Solo. Saat bertemu, mereka sering menyuguhkan bubur samin, terutama ketika Ramadan tiba. Sajian bubur samin pun semakin sering dihidangkan pada Bulan Ramadan sebagai menu takjil. Mulai saat itulah, tradisi bubur samin terus dipertahankan hingga saat ini.
Warga perantau asal Banjar yang banyak mendapatkan rezeki dari penjualan dan perajin berlian, intan serta permata, ingin berbuat kebaikan untuk warga sekitar Kampung Jayengan. Mereka mengembangkan tradisi bubur samin sebagai menu takjil selama Ramadan untuk dibagikan secara gratis ke warga sekitar.
Masjid Darussalam yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jayengan ini, kini rutin menyiapkan bubur samin atau bubur Banjar. Takmir masjid membantu menyiapkan ribuan porsi bubur samin untuk dibagikan setiap hari ke warga. Setiap menjelang buka puasa, banyak warga ikut antri mendapatkan bubur samin yang gurih. Tradisi ini menjadi tradisi yang paling ditunggu-tunggu oleh warga Jayengan dan sekitarnya.
Akulturasi warga perantau asal Banjar dengan warga Solo, menjadi sangat indah, karena kehidupan antar etnis bisa hidup rukun dan damai.
Bubur samin memiliki rasa yang khas dengan berbagai bahan seperti beras, daging sapi, susu, rempah, sayuran wortel, santan serta resep khusus minyak samin yang berwarna kekuningan. Karena kondang atau terkenal dengan kelezatan bumbu-bumbu yang diracik, tidak hanya warga Solo saja yang ikut menunggu antri. Banyak warga dari berbagai daerah seperti Karanganyar, Sukoharjo, Klaten dan Boyolali, juga pernah antri untuk mendapatkan bubur samin.
Kampung Jayengan memiliki banyak keunikan atau kekhasan. Selain terkenalnya bubur samin dan Masjid Darussalam, Jayengan juga dikenal sebagai kampung permata, berkat kehadiran warga perantau Banjar. Keturunan Banjar kini juga sudah banyak yang menikah dengan warga asli Solo dan menetap di Jayengan hingga sekarang.
Seru ya mengikuti kisah unik Kampung Permata Jayengan, Masjid Darussalam dan Bubur Samin. Paket keunikan itu makin seru kalau kalian mampir dan dolan ke Kampung Jayengan. Ada banyak yang bisa kalian eksplore untuk selfie di akun media sosialmu. Liburan nanti, jangan lupa dolan ke Solo dan kenalilah secara dekat wisata religi ke Masjid Darussalam serta Kampung Permata Jayengan.(RLS)
