SURAKARTA.RILISJATENG.COM – Pemerintah Kota Surakarta menerima bantuan 13 unit kursi taman dari Lions Club Solo Bengawan sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas ruang publik sekaligus mendorong interaksi sosial masyarakat. Bantuan tersebut secara resmi diterima Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani di Taman Bermain Anak Stadion Manahan, Selasa (18/8/2026).
Bantuan tersebut dikemas melalui kampanye sosial “Duduk Bareng Solo: Satu Kursi, Seribu Cerita”. Program ini tidak hanya ditujukan untuk menambah fasilitas taman, tetapi juga menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk beristirahat, berinteraksi, bertukar cerita, serta membangun kebersamaan.
Astrid mengapresiasi kepedulian dan kolaborasi Lions Club Solo Bengawan dalam menghadirkan fasilitas publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Kursi taman ini bukan sekadar barang fisik, tetapi simbol hadirnya ruang interaksi sosial bagi warga. Di era sekarang, ruang publik yang nyaman semakin penting agar masyarakat tidak hanya berinteraksi melalui gadget. Dengan duduk bareng, warga bisa bertukar cerita, mempererat silaturahmi, dan membangun kebersamaan untuk menyelesaikan berbagai persoalan bersama,” ujar Astrid.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan komunitas menjadi bagian penting dalam membangun Kota Surakarta sebagai kota yang nyaman dan inklusif. Fasilitas publik yang sederhana namun fungsional dapat mendorong masyarakat untuk lebih banyak beraktivitas di ruang terbuka, berjalan kaki, berolahraga, maupun menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Ini sejalan dengan semangat Asta Cita Surakarta untuk menghadirkan ruang publik yang ramah, asri, dan inklusif. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan komunitas dan berbagai elemen masyarakat seperti Lions Club menjadi kekuatan bersama untuk membuat Solo semakin nyaman bagi warganya,” katanya.
Kursi Taman Jadi Simbol Interaksi Sosial
Presiden Lions Club Solo Bengawan Amalia Sandra, Project Officer Amelia Ong, jajaran pengurus, serta anak-anak Panti Asuhan Misi Nusantara turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama jajaran pejabat Pemerintah Kota Surakarta.
Amelia Ong menjelaskan, pemilihan kursi taman sebagai bentuk bantuan memiliki makna tersendiri. Kursi dipandang sebagai fasilitas sederhana yang dapat menjadi titik awal lahirnya berbagai interaksi dan cerita positif di ruang publik.
“Bagi kami, sebuah kursi bukan hanya tempat untuk duduk. Di atas kursi taman, seorang ibu bisa menemani anaknya bermain, seorang ayah beristirahat, sahabat berbincang, dan anak-anak tertawa bersama. Kami percaya pelayanan sejati lahir dari ketulusan hati untuk memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat,” ujar Amelia.
Sebanyak 13 kursi taman tersebut selanjutnya ditempatkan di sejumlah titik strategis, salah satunya di kawasan Stadion Manahan. Penempatan fasilitas dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kenyamanan, keamanan, dan keterpantauan dengan memilih area yang terbuka, terang, serta mudah dipantau petugas maupun masyarakat.
Dorong Ruang Publik yang Ramah dan Inklusif
Pemerintah Kota Surakarta berharap penambahan fasilitas tersebut dapat semakin memperkuat fungsi ruang publik sebagai tempat bertemu dan beraktivitas bersama. Keberadaan kursi taman juga diharapkan mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak, berolahraga, dan menghabiskan waktu bersama keluarga di ruang terbuka.
Di tengah semakin tingginya penggunaan perangkat digital, ruang publik juga memiliki peran penting sebagai tempat membangun interaksi sosial secara langsung. Karena itu, fasilitas sederhana seperti kursi taman dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang mendorong masyarakat untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara langsung.
Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kota Surakarta, komunitas, dan masyarakat, ruang publik di Kota Solo diharapkan tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kebersamaan, gotong royong, kepedulian, dan interaksi sosial warga.
Kampanye “Duduk Bareng Solo: Satu Kursi, Seribu Cerita” pun diharapkan menjadi pengingat bahwa membangun kota yang nyaman tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Fasilitas sederhana yang dirancang untuk mempertemukan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan Kota Surakarta yang semakin ramah, inklusif, dan humanis.







