SURAKARTA.RILISJATENG.COM – Pemerintah Kota Surakarta terus memperkuat pembangunan berbasis budaya melalui penyelenggaraan Festival Se.daya.di Surakarta 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 2–6 November 2026 di Taman Balekambang. Sebagai langkah awal, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menghadiri Sosialisasi Program Se.daya.di Surakarta yang digelar di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Kamis (30/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti pelaku seni budaya, industri kreatif, media, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan festival.
Mengusung tema “Membangun Masa Depan yang Berakar Tradisi: Harmoni Loro Blonyo untuk Kota Surakarta”, Festival Se.daya.di Surakarta dihadirkan sebagai ruang kolaborasi yang menempatkan seni, budaya, dan tradisi tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia sekaligus penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata.
Dalam sambutannya, Respati menegaskan bahwa arah pembangunan Kota Surakarta saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pada pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan identitas budaya.
“Kota Surakarta hari ini sedang bertransformasi. Sebelumnya kita banyak menyiapkan infrastruktur fisik, beton, aspal, dan lain-lain. Hari ini kita sedang bertransformasi membangun infrastruktur sumber daya manusia. Karena itu kita membutuhkan event yang tidak hanya ramai dan mengejar jumlah pengunjung, tetapi event yang meaningful, memiliki nilai edukasi, dan mampu membangun identitas kota,” ujar Respati.
Menurutnya, Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen menjadikan seni, budaya, dan tradisi sebagai flagship event yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan nilai edukasi, memperkuat karakter kota, serta menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Respati menilai penyelenggaraan festival budaya harus mampu menjadi tolok ukur bagaimana sebuah kegiatan memberikan manfaat nyata bagi pelaku seni, pelaku UMKM, industri kreatif, hingga sektor pariwisata. Oleh karena itu, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
“Sebagai identitas kota, salah satu flagship event yang kami dukung penuh adalah event seni, budaya, dan tradisi Surakarta. Ke depan, event ini harus menjadi benchmark bagaimana sebuah festival memberikan makna yang lebih bagi warganya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi digital, dinamika global, dan perubahan sosial justru menjadi momentum untuk semakin memperkuat identitas budaya Kota Surakarta sebagai kota budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Program Se.daya.di Surakarta merupakan inisiatif yang menempatkan budaya sebagai lokomotif pembangunan kota. Melalui pendekatan tersebut, seni dan tradisi diposisikan sebagai bagian penting dalam membangun karakter masyarakat, memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, sekaligus meningkatkan daya saing Kota Surakarta sebagai destinasi budaya dan pariwisata.
Tema “Harmoni Loro Blonyo” diangkat sebagai filosofi utama festival yang merepresentasikan nilai keselarasan, keseimbangan, dan harmoni dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nilai-nilai tersebut akan diterjemahkan ke dalam berbagai program kreatif, mulai dari pameran seni, pertunjukan budaya, instalasi publik, aktivitas edukasi, hingga kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pelaku ekonomi kreatif.
Selain menjadi ruang ekspresi budaya, Festival Se.daya.di Surakarta juga diarahkan untuk memperkuat city branding Kota Surakarta. Filosofi Loro Blonyo diproyeksikan menjadi identitas visual kota dengan konsep Recognizable, Not Replicated, yang nantinya dapat diterapkan pada penanda kawasan (landmark), sistem informasi kawasan (wayfinding), produk suvenir, hingga berbagai media promosi kota.
Pemerintah Kota Surakarta berharap Festival Se.daya.di Surakarta 2026 menjadi investasi budaya jangka panjang yang mampu memperkuat identitas Kota Solo sebagai kota budaya, mendorong lahirnya karya-karya kreatif, meningkatkan daya tarik pariwisata, serta memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi pelaku seni, UMKM, dan masyarakat. Melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, festival ini diharapkan menjadi salah satu agenda unggulan Kota Surakarta yang memperkuat pembangunan berbasis budaya sekaligus mendukung terwujudnya sumber daya manusia yang kreatif, berkarakter, dan berdaya saing.







