SURAKARTA.RILISJATENG.COM – Wali Kota Surakarta Respati mendorong industri perbankan untuk semakin aktif melihat peluang pembiayaan pada sektor-sektor ekonomi baru yang berkembang di Kota Surakarta. Selain mendukung sektor usaha yang telah berjalan, perbankan diharapkan turut mengambil peran dalam pengembangan ketenagakerjaan, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga sektor wellness yang diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan ekonomi Kota Solo ke depan.
Hal tersebut disampaikan Respati saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Penguatan BUMD Sektor Keuangan melalui Kajian Implementasi Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai Strategi Penguatan Permodalan dan Tata Kelola BPR Milik Pemerintah Daerah di Kantor OJK Solo, Selasa (11/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Respati menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, industri keuangan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah ketenagakerjaan. Respati mencontohkan pengembangan Rumah Siap Kerja yang mempertemukan lembaga pelatihan kerja (LPK) dengan kebutuhan industri. Menurutnya, LPK memiliki peran penting sebagai developer sumber daya manusia karena dapat menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia usaha melalui konsep link and match.
“Banyak pengangguran, tetapi banyak juga lowongan pekerjaan. Tidak match. Karena itu saya mengajak industri keuangan untuk segera melakukan kerja sama atau mencari para developer manusia. Merekalah yang nantinya akan menyalurkan tenaga kerja yang lebih tepat,” ujar Respati.
Menurut Respati, persoalan ketenagakerjaan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, industri, lembaga pelatihan, dunia usaha, dan sektor perbankan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus memperluas akses terhadap kesempatan kerja.
Ia juga mendorong agar Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan ekonomi daerah. Penurunan pengangguran dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi sosial masyarakat, tetapi juga dapat mendorong peningkatan aktivitas dan perputaran ekonomi di Kota Surakarta.
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jadi Peluang Ekonomi Baru
Selain ketenagakerjaan, Respati menyebut pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai salah satu backbone perekonomian Kota Surakarta ke depan. Kota Solo dinilai memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk menarik lebih banyak wisatawan sekaligus meningkatkan lama tinggal wisatawan atau length of stay.
Menurutnya, Kota Surakarta telah memiliki berbagai modal ekonomi seperti kuliner, gastronomi, wisata belanja, serta produk budaya seperti batik. Potensi tersebut perlu dikembangkan lebih lanjut melalui diversifikasi layanan dan pengalaman wisata.
Salah satu konsep yang tengah didorong adalah Wellness City 2030. Pengembangan sektor wellness diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.
“Tujuannya agar tercipta lapangan kerja dan perputaran ekonomi. Uang dari luar kota masuk ke Solo. Kita sudah punya kuliner, gastronomi, wisata belanja seperti batik. Kita perlu length of stay agar wisatawan tinggal lebih lama di Kota Solo melalui spa dan wellness,” jelasnya.
Respati menjelaskan bahwa sektor wellness memiliki cakupan yang luas dan tidak hanya berkaitan dengan layanan spa. Potensinya dapat mencakup klinik kecantikan, klinik kesehatan, fisioterapi, sport massage, serta berbagai layanan pendukung lainnya.
Pertumbuhan sektor tersebut dinilai dapat menciptakan permintaan tenaga kerja baru sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor pendukung. Karena itu, Pemerintah Kota Surakarta mendorong industri perbankan agar lebih adaptif dalam melihat peluang pembiayaan pada sektor-sektor tersebut.
“Saya berharap kepada rekan-rekan industri perbankan untuk lebih berani berinovasi dan membiayai sektor-sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Wellness ini ke depan akan menjadi fundamental ekonomi,” katanya.
Dorong Pembiayaan untuk Sektor Ekonomi Kreatif
Respati juga menyampaikan peluang pengembangan halal tourism di Jawa Tengah. Kota Surakarta dinilai memiliki potensi untuk mengambil bagian dalam pengembangan sektor tersebut, salah satunya melalui kawasan Kauman yang tengah diarahkan menjadi salah satu pusat halal tourism.
Pengembangan berbagai sektor baru tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik usaha. Oleh karena itu, industri jasa keuangan diharapkan tidak hanya berfokus pada sektor ekonomi konvensional, tetapi juga mampu membaca perubahan dan perkembangan pasar.
Menurut Respati, sektor-sektor baru yang berkembang di Kota Surakarta dapat menjadi peluang bagi perbankan untuk memperluas basis nasabah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Perbankan harus lebih berani berinovasi, mencari nasabah baru, terutama di industri-industri baru yang sekarang menjadi market potensial,” pungkasnya.
Melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan industri jasa keuangan, Pemerintah Kota Surakarta berharap berbagai sektor potensial dapat berkembang secara berkelanjutan. Dukungan pembiayaan terhadap ketenagakerjaan, pariwisata, ekonomi kreatif, wellness, dan sektor ekonomi baru lainnya diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan aktivitas usaha, serta memperkuat perekonomian Kota Surakarta.







